9 SUBTLE LIES WE ALL TELL OURSELVES

9 SUBTLE LIES WE ALL TELL OURSELVES


Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Mark Manson dengan judul yang sama, dia bercerita bagaimana saat dimasa ia kuliah ia ingin menjadi seorang pialang saham dan bekerja di Wall Street. Namun saat dia sudah mendapatkan pekerjaan impiannya tersebut, hanya butuh waktu tiga jam untuk ia menyadari bahwa bekerja di Wall Street sebagai pialang saham bukanlah hal yang dia impikan sama sekali. Ternyata keinginannya untuk menjadi seorang yang berkuasa dan penting, lebih besar daripada keinginannya untuk menjadi seorang bankir.


 Sering kali kita tidak bisa membedakan dengan baik antara emosi dengan keinginan diri kita sendiri. Pada akhirnya kita membohongi diri kita sendiri. Dan kita melakukannya untuk satu alasan yang jelas : untuk merasa lebih baik.


“Dengan membohongi diri sendiri, kita menggadaikan kebutuhan jangka panjang kita untuk memenuhi keinginan jangka pendek kita. Oleh karena itu, dapat dikatakan proses pengembangan diri hanyalah proses belajar untuk berbohong kepada diri sendiri lebih sedikit.”


Menurut Manson, ada beberapa kebohongan yang biasa dia temui, baik itu di dirinya sendiri ataupun pada rekan – rekan kerjanya. Ada 9 kebohongan yang Manson sebutkan dalam artikel yang dia tulis :


1. “Jika saya X, maka hidup saya akan menakjubkan“


Silahkan isi ‘X’ dengan apapun yang anda mau: menikah, naik gaji, membeli mobil baru, membeli rumah, atau apapun itu. Kita pasti sebenernya cukup pintar untuk mengerti bahwa hal – hal tersebut tidak serta merta dapat membuat kita bahagia secara permanen. Itulah bagian rumit tentang otak manusia: mekanisme "Kalau saja aku punya X, maka ..." tidak pernah hilang. Ini sebenarnya adalah strategi yang buruk untuk mencari kebahagiaan. Jika kita selalu mencari apa yang menjadi hal baru berikutnya, maka akan sulit untuk mensyukuri apa yang sudah kita punya saat ini.


Lalu apa yang harus kita lakukan ? Belajar untuk menikmati segala hal. Belajar untuk menikmati tantangan, belajar untuk menikmati perubahan.


2. “Jika saya punya lebih banyak waktu, maka saya akan melakukan X”


Omong kosong. Kita punya pilihan antara ingin melakukan sesuatu atau tidak. Kita sering kali memiliki ide untuk melakukan sesuatu, tapi saat waktu yang ditentukan tiba, ternyata kita sebenarnya tidak ingin melakukan hal tersebut.


Orang – orang sering bilang bahwa mereka ingin memulai bisnis, ingin punya perut six-pack, ingin ahli dalam memainkan alat musik. Tapi apakah mereka benar – benar menginginkannya ? Karena jika mereka benar – benar menginginkannya, maka mereka akan meluangkan waktu untuk melakukannya. Kita menginvestasikan waktu yang kita miliki untuk hal yang penting bagi kita. Jika kita meluangkan waktu 80 jam per minggu untuk pekerjaan yang kita miliki, berarti itu adalah hal yang penting bagi kita. Padahal kita bisa saja memilih untuk tidak bekerja, kita bisa memilih mengejar mimpi kita dibandingkan bekerja untuk sekedar mencari uang. Tetapi pada akhirnya kita akan memilih hal lebih penting bagi kita.


3. “Jika saya mengatakan atau melakukan X, orang akan berpikir bahwa saya bodoh”


Pada kenyataaanya, sebagian besar orang tidak peduli bila kita melakukan X atau tidak. Sesungguhnya kita takut melakukan suatu hal bukan karena orang lain akan berpikir kita bodoh, atau norak, atau menjengkelkan. Tapi kita takut melakukan sesuatu karena diri kita sendiri yang akan berpikir bahwa kita bodoh, atau norak, atau menjengkelkan.


Ini adalah kebohongan yang lahir dari perasaan insecure, karena kita merasa tidak cukup baik. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan seberapa baik / jahatnya orang – orang di sekitar kita.


4. “Jika saya mengatakan atau melakukan X, maka orang itu akan berubah”


Kita tidak bisa merubah sifat seseorang. Kita hanya bisa membantu orang lain untuk merubah dirinya sendiri. Kita tidak bisa memaksa orang untuk melihat sesuatu dari perspektif kita dan berharap mereka akan berubah.


Kita hanya bisa memberikan saran dan dukungan tanpa ada syarat apapun, tanpa ada harapan bahwa akan ada sebuah keajaiban, dan orang tersebut bisa menyadari kesalahan yang mereka buat. “Love people for the messed up ways that they already are, not how you’d wish them to be”.


5. “Semua hal berjalan baik / semua hal berjalan buruk”


Semuanya tergantung bagaimana kita memilih untuk melihatnya. Maka pilihlah dengan bijak.


6. “Ada suatu hal yang salah pada diri saya”


Kebohongan ini berlandas pada rasa malu pribadi, bahwa kita percaya ada sesuatu hal yang salah pada diri kita. Salah satu efek samping buruk dari kehidupan sosial dengan orang – orang yang beragam, maka kita mau tidak mau akan mencoba untuk membandingkan diri kita dengan standar sosial yang semena – mena. Selama kita beranjak dewasa, kita semakin menyadari ( dan terus – menerus diingatkan oleh orang sekitar kita ) apakah kita tinggi / pendek, cantik / jelek, pintar / bodoh, kuat / lemah dibandingkan dengan orang lain.


Ini biasa kita sebut “sosialisasi”, dan sebenarnya memiliki tujuan yang baik. Yaitu untuk menentukan standar budaya yang berlaku di masyarakat sehingga kita bisa hidup berdampingan tanpa kita melanggar kode etik yang berlaku.


Tapi salah satu dampak buruk yang ditimbulkan adalah adanya perasaan dalam diri kita, yang membuat kita percaya bahwa kita tidak cukup baik dengan apa yang kita miliki. Beberapa dari kita merasakan tekanan dalam diri yang lebih besar dibanding yang lain, terutama apabila kita mengalami intimidasi (bullying) dari orang lain.


Masalahnya adalah kita biasanya terus berpegang teguh pada anggapan bahwa kita adalah orang yang lebih rendah dibandingkan orang lain, tidak pantas mendapatkan rasa sayang, dan sukses seperti yang orang lain dapatkan. Kenapa ? karena dengan beranggapan bahwa kita memang memiliki kekurangan, maka kita bisa merasa spesial. Jika kita memang memiliki kekurangan yang pada dasarnya melekat pada diri kita, kita jadi memiliki sebuah identitas yang berbeda dari orang – orang di sekitar kita.


Bila kita pada akhirnya bisa menerima bahwa sebenarnya tidak ada hal yang salah pada diri kita, kita hanya akan menjadi seperti orang – orang di sekitar kita. Dan pada akhirnya itu yang membuat kita takut untuk mengakui bahwa sebenarnya kita tidak memiliki kekurangan, kita lebih memilih untuk terus merasa sengsara dengan keadaan, karena hanya itulah identitas yang kita punya. Yang membuat kita berbeda dari orang lain.


7. “Saya mau berubah, tapi tidak bisa karena X”


Kecuali X adalah “saya sebenarnya tidak mau”, maka pernyataan ini adalah omong kosong. Kita hanya mencari – cari alasan. Dan sebenarnya sah – sah saja, semua orang sering mencari – cari alasan, tapi sebaiknya kita jujur. Kita sebenarnya tidak ingin berubah, karena kalau kita benar – benar ingin berubah maka kita akan melakukannya.


8. “Saya tidak bisa hidup tanpa X”


Dalam banyak kasus, kita sebenarnya bisa. Menurut Manson, berdasarkan pengalamannya berkeliling dunia dan menetap di beberapa tempat yang tidak nyaman selama beberapa waktu, manusia bisa beradaptasi dengan sangat cepat.


Kita sudah terjebak di lingkaran konsumtif dunia modern, banyak dari kita sudah lupa bahwa secara psikologis kita sebenarnya sudah mendapatkan semua yang kita butuh. Jiwa kita memiliki kemampuan yang luar biasa untuk beradaptasi dengan lingkungan, memenuhi segala kebutuhan kita dan membuat diri kita bahagia. Yang paling penting adalah bukan seberapa banyak yang kita punya, tapi lebih pada bagaimana setiap yang kita miliki dan lakukan memberikan arti pada hidup kita.


9. “Saya tau apa yang saya lakukan”


Sure you do buddy. Sure you do. Hidup kita sebenarnya ditentukan dengan menebak – nebak , dan berharap untuk yang terbaik. Sebuah proses trial and error tanpa henti. Jadi tidak ada orang yang benar – benar tau apa yang dia lakukan dalam hidup ini.


credit : 

https://markmanson.net/9-subtle-lies-we-all-tell-ourselves

  • Share: