I WAS WRONG ABOUT FINDING PASSION

I WAS WRONG ABOUT FINDING PASSION

image credit : www.tribunnews.com 

Oleh: Dian Adriani David

"I was wrong about finding passion". Kalimat tersebut adalah kalimat pembuka dari Rene Suhardono, seorang career coach, pada acara Bukatalks yang diselenggarakan oleh Bukalapak pada tanggal 14 Januari 2019 yang lalu. Topik tentang passion mulai ia angkat pada tahun 2007. Saat itu ia banyak sekali bertemu dengan orang-orang yang bekerja hanya untuk mengisi waktu, berkantor hanya untuk identitas, dan bergaji sebagai tujuan akhir dan satu-satunya alasan bekerja. Menurutnya seorang pekerja harus bisa memerdekakan diri dari pekerjaan yang hanya menjadi rutinitas dan bekerja tanpa karya. Sejak saat itu, Rene bergulat dengan topik yang berhubungan dengan passion di berbagai kesempatan: siaran radio dengan segmen #CareerCoach di HardRock FM, membuat buku “Your Job is Not Your Career” sampai mengisi acara di TEDxJakarta.


Namun apa yang ia dengungkan bertahun-tahun semata-mata hanya membuat istilah “passion” menjadi lebih lazim, tetapi menurutnya masih jauh dari berhasil. Setelah lebih dari 10 tahun memulai upaya, mungkin hanya sekitar 15% pekerja yang bekerja sesuai dengan passion mereka. Selebihnya masih tidak tahu bahkan tidak peduli dengan passion.




Banyak orang yang mengaitkan passion dengan profesi. Ucapan “Passion gue tuh ingin jadi CEO” mungkin banyak didengar, tapi jika ditanya “CEO perusahaan apa?” belum bisa memberikan jawaban.


Banyak pula yang mengaitkan passion dengan hobi. “Passion gue tuh di musik” juga sering terdengar, tapi jika ditanya “Udah bikin berapa lagu, berapa aransemen?” dijawab “Belom ada, maksudnya gue hobi dengerin musik”.


Terakhir, passion sering dikaitkan dengan keinginan atau ambisi. Menurut Rene, “passion is an act of becoming, passion is a state of being.” Jadi tidak ada hubungan antara ingin jadi apa dengan passion.


Upaya memahamkan passion kepada banyak orang selama bertahun-tahun gagal dilakukan Rene karena menurutnya ia melupakan hal yang mendasar: to get the thing, you need to know the thing. Orang tersesat bukan karena tidak tahu mau ke mana, namun karena tidak tahu ada di mana. Kita tidak punya masalah dengan “habis ini mau ke mana?”. Dari sesi kehidupan, kita menempuh pendidikan SD, SMP, SMA, kuliah, kemudian kerja, menikah, punya anak, mendidik anak, lalu mempersiapkan kematian. Kita punya tujuan akhir, dan kita berpikir itu yang kita mau, itu yang mendefinisikan siapa kita. Tapi kalau kita ditanya, “Bisa ngga ceritain lo itu siapa? What makes you you?” apa kita bisa menjawab dengan mudah?


Rene menceritakan sebuah contoh. Dulu ia sering bermain menggunakan sebuah buku berjudul Where’s Waldo? Permainannya sederhana, ada sebuah tokoh iconic bernama Waldo dengan ciri-ciri rambut kecoklatan, selalu menggunakan topi rajut, memakai kacamata, baju bergaris merah putih, dan celana jeans. Di masing-masih halaman buku tersebut, tugas pembaca hanyalah menebak di mana Waldo berada.





Salah satu halaman di buku Where's Waldo


Meskipun menuju akhir buku, permainan semakin sulit, tapi setidaknya pembaca punya bayangan mengenai siapa yang harus mereka cari, berdasarkan semua ciri-cirinya. Akan tetapi lain halnya jika kita tidak tahu sosok yang kita cari. Tidak ada nama, tidak ada ciri-ciri, tidak ada petunjuk sama sekali. Tentu pencarian menjadi sangat sulit.


Contoh lainnya seperti ini. Kita ingin berwisata ke Gedung Sate dan berangkat dari rumah. Bukan hal yang sulit apalagi dengan teknologi yang ada. Semua informasi yang kita butuhkan untuk berjalan ke Gedung Sate sudah kita miliki: kita tahu bentuk Gedung Sate seperti apa, kita tahu kita akan berjalan dari mana, kita hanya perlu mencari rute yang paling pendek dengan medan yang mudah. Tapi apa yang terjadi jika tujuan Gedung Sate ini hilang, kita tidak tahu harus ke mana, bahkan kita tidak tahu akan berjalan dari mana? Apa kita bisa berjalan dengan mudah?


Jika analogi tersebut digunakan dalam mencari passion, maka tampak pula masalahnya. Kita tidak tahu apa yang kita cari. Kita tidak tahu di mana yang kita cari. Kita, bahkan tidak tahu kita berada di mana saat ini.


Mengapa jika kita diminta untuk menentukan ‘ingin jadi apa’ mudah? Karena kita melihat orang lain. Pertanyaan “kalau udah gede mau jadi apa?” bahkan sudah kita dengar sejak kita di usia balita. Menjawab pertanyaan tersebut adalah mudah bahkan untuk anak usia balita. Ingin menjadi presiden karena sudah tau sosok presiden (ideal atau tidak) seperti apa. Ingin menjadi ilmuwan karena sudah memiliki bayangan tentang ilmuwan itu seperti apa. Atau, untuk anak “zaman now”, ingin menjadi CEO start-up karena sudah melihat sosok-sosok sukses di bidang tersebut. Browsing di internet, menonton film dan dokumenter, bertanya dengan banyak orang, dan masih banyak cara lain untuk kita memiliki informasi mengenai tokoh yang kita idolakan. Tapi kita tidak bisa browsing tentang diri kita sendiri. Mengetahui keinginan kita adalah hal yang baik, tapi tidak memecahkan masalah jika kita tidak tahu siapa dan di mana kita.


Finding passion is impractical and potentially mislead. Jangan menjadikan passion sebagai alasan terhadap apapun yang terjadi dengan kita saat ini. “Gue ngerasa ngga enjoy kerja di sini, bukan passion gue sih”. Kalimat tersebut mungkin beberapa kali terdengar dari orang di sekitar kita. Apapun masalah yang terjadi di dalam hidup kita, yang kita tidak sukai, itu ditujuan secara spesifik untuk kita. Pertanyaannya adalah kita mau komplain atau melakukan sesuatu.


Masalah kita adalah questioning the condition, kenapa begini, kenapa begitu. Berlibur ke pantai pasir putih harusnya adalah hal yang menyenangkan. Tapi akan jadi masalah jika yang kita cari adalah sinyal Wi-Fi. Kondisi apapun itu nyata dan sudah terjadi di depan mata kita, tinggal kita yang memilih langkah selanjutnya. Kita akan pulang dan mencari sinyal Wi-Fi terdekat, atau menikmati pemandangan pantai yang jarang ditemui.


Kalau kita bicara tentang realita, orang-orang tidak peduli apa passion kita, mereka peduli dengan karya kita. Jadi jangan melulu bicara tentang passion, tapi hasilkan karya. Bekerja dinamis, ambil bagian dari sesuatu yang memberi makna untuk kita, berperan dengan suka cita, berkontribusi lewat karya, dan memberikan yang terbaik yang kita bisa, the best version of yourself, the ultimate you.


Hal tersebut bisa dimulai dari sekarang. Definisikan kekuatan kita. Satu hal spesifik yang membuat kita bangga memilikinya. The more precise the better. Pahami diri, kenali sekitar, lalu ambil peran.


Pertanyaan yang lebih penting dari “apa passion kita?” adalah “apa tujuan hidup kita?”. Kalau sisa umur kita terpampang di dahi, kita bisa mengukur kapan harus mulai berkarya di dunia, kapan harus bermanfaat dan menabung pahala untuk hari akhir, dan kapan harus memperbaiki diri. Masalahnya, kita tidak tahu end game kita di mana. Jadi, mulailah mencari tahu tujuan hidup kita dari sekarang, sebelum end game kita tiba.


  • Share: