SISTEM DROPSHIPPING DAN SOLUSINYA

SISTEM DROPSHIPPING DAN SOLUSINYA



Belanja online merupakan kegiatan yang paling diminati banyak orang saat ini. Belanja online dinilai lebih praktis daripada harus datang langsung memilih barang di toko, hanya bermodalkan dengan smartphone kamu bisa memilih barang melalui toko virtual selanjutnya membayarnya via transfer ATM atau mobile banking dan barang tersebut akan dikirim ke rumahmu.


Dalam sistem jual beli normalnya terjalin antara 2 pihak yaitu penjual dan pembeli. Teknologi yang berkembang cepat sangat berpengaruh pada sistem jual beli online yang melibatkan 3 pihak yakni produsen, engecer, dan pembeli.


Namun saat ini kebanyakan produsen dan pengecer melakukan sistem dropship yang mana pengecer tidak perlu membeli barang dulu dari produsen. Pengecer hanya perlu memajang gambar barang milik produsen di toko virtualnya, jika ada yang membeli barang ke pengecer, maka akan meneruskan pesanan tersebut kepada produsen. Selanjutnya produsen akan mengirimkan barang langsung ke pembeli.



Sistem tersebut tidak diperbolehkan dalam Islam karena yang dilakukan pengecer adalah menjual barang yang bukan miliknya contohya menjual barang yang tidak pengecer miliki dan membuat keuntungan dari apa yang belum menjadi milik pengecer (yaitu pengecer tidak menanggung risiko dan bertanggung jawab pada barang tersebut). Dalam islam sudah ada aturan yang menjelaskan tentang larangan jual beli. Salah satu syarat jual beli yaitu orang yang melakukan akad sebagai pemilik barang atau alat tukar atau bertindak sebagai wakil. Terkait dengan jal beli barang yang bukan miliknya telah termaktub dalam hadits larangan jual beli berikut.


Hakim bin Hizam pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِي الرَّجُلُ فَيَسْأَلُنِي الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِي أَبِيعُهُ مِنْهُ ثُمَّ أَبْتَاعُهُ لَهُ مِنْ السُّوقِ قَالَ لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mendatangiku lalu ia meminta agar aku menjual kepadanya barang yang belum aku miliki, dengan terlebih dahulu aku membelinya untuk mereka dari pasar?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu.” (HR. Abu Daud no. 3503, An Nasai no. 4613, Tirmidzi no. 1232 dan Ibnu Majah no. 2187. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih).


Solusi Syar’i untuk Sistem Dropshipping


Ada tiga solusi yang ditawarkan dalam fatwa di atas bagi pihak pengecer:


1- Bertindak sebagai calo atau broker, dalam kondisi ini bisa mengambil keuntungan dari pihak pembeli atau produsen (grosir) atau keduanya sekaligus sesuai kesepakatan.

2- Bertindak sebagai agen atau wakil, dalam kondisi ini, barang masih boleh berada di tempat produsen (grosir) dan mereka pun bisa bertindak sebagai pengirim barang (dropshipper) ke tangan konsumen atau buyer. Jika sebagai agen berarti sudah disetujui oleh pihak produsen atau grosir, ada hitam di atas putih.

3- Jika menjual sendiri (misal atas nama toko online), tidak atas nama produsen, maka seharusnya barang sampai ke tangan, lalu boleh dijual pada pihak lain.


Jadi jika kita membeli barang dari toko yang kita tahu kalau dia melakukan dropship, sebaiknya dibatalkan saja karena kalau kita melakukan pembelian itu berarti kita tolong menolong dalamperkara yang terlarang.

Sumber: Rumaysho.com


  • Share: