4 Hal Yang Tidak Dilakukan Orang Produktif

4 Hal Yang Tidak Dilakukan Orang Produktif

Kebanyakan orang berpikir tentang produktivitas sebagai keterampilan, sesuatu yang dapat Kita tingkatkan dan latih. Walaupun pernyataan ini benar, tetapi ada poin yang terlewatkan. Menjadi lebih produktif adalah tentang apa yang kita lakukan lebih sedikit, bukan lebih banyak.


Seringkali, cara terbaik untuk meningkatkan produktivitas kita adalah dengan mengidentifikasi kebiasaan yang mengganggu produktivitas kita dan menghilangkannya.

Berikut ini adalah 4 kebiasaan umum yang mengganggu produktivitas.

1. Bekerja secara maraton, bukan sprint

Salah satu jebakan produktivitas terbesar yang saya adalah banyak orang mencoba bekerja secara maraton.

Katakanlah kita punya tenggat waktu untuk sebuah proyek besar. Dan kita memutuskan bahwa Selasa pagi adalah hari kita akan mengerjakannya. Kita menghitung bahwa ini mungkin akan memakan waktu sekitar 6 jam kerja, jadi kita membuat rencana untuk mulai bekerja pada pukul 6 pagi dan mengosongkan jadwal kita pada hari itu.


Masalahnya di sini adalah kita telah membuat maraton untuk diri kita sendiri. Dan dalam dunia produktivitas, maraton adalah hal yang buruk.

Beberapa hal mungkin terjadi dalam situasi seperti ini:

Menyerah. Kita bisa bekerja lebih awal, duduk di meja kita, dan langsung kewalahan oleh banyaknya hal yang perlu kita lakukan. Setelah awal yang salah, kita malah menyerah begitu saja.

Menunda. Alih-alih menyerah sepenuhnya, kita malah menunda-nunda . Kita mengirim email terlebih dahulu, mungkin membalas beberapa panggilan, membaca sedikit berita, atau mengerjakan hal yang lain. Tetapi sekarang hal yang harusnya dikerjakan malah jadi tidak terurus dan jadi tidak sesuai jadwal.Biasanya saat hal ini terjadi kita mulai merasa cemas. Namun, untuk mengalihkan diri dari kecemasan, kita menunda-nunda lebih lagi. Akhirnya pekerjaan yang diselesaikan pun jadi tidak maksimal.

Bingung. Hal terakhir yang biasanya terjadi saat orang melakukan maraton kerja adalah menjadi bingung sendiri. Karena mereka mencoba untuk menyelesaiakn tumpukan kerjaan yang banyak sekaligus , mereka mudah untuk kehilangan fokus pada apa yang menjadi prioritas dan apa yang perlu dilakukan dalam urutan apa.

Kita dapat menghindari semua hasil ini dengan belajar bekerja dalam sprint daripada maraton.  Sprint adalah ledakan fokus, pekerjaan berenergi tinggi dengan waktu terbatas pada tugas tertentu.


Misalnya, jika Kita memiliki enam jam kerja, Kita dapat membaginya menjadi tiga bagian. Kemudian rancang serangkaian sprint 45 menit untuk mengerjakan setiap bagian.  Bekerja dalam sprint memiliki keuntungan sebagai berikut:

Kejelasan. Saat Kita membuat rencana untuk bekerja dalam sprint, itu memaksa Kita untuk merencanakan pekerjaan Kita secara detail dan membuat rangkaian tugas yang lebih spesifik. Ini berarti bahwa ketika kita benar-benar duduk untuk bekerja, akan ada lebih sedikit kebingungan untuk memulai pekerjaan tersebut.Selain lain itu, kita lebih cenderung untuk tetap pada tugas kita dan membuat prioritas dengan baik.

Doableness. Doableness adalah persepsi bahwa, meski sulit, sebuah pekerjaan adalah sesuatu yang bisa kita capai. Walaupun intens, metode sprint memiliki faktor Doableness yang jauh lebih tinggi daripada maraton, yang berarti motivasi, stamina, dan energi lebih tinggi saat bekerja.

Memberi energi positif. Manfaat lain yang diremehkan dari bekerja dalam sprint adalah Kita memberi diri kita lebih sering kesempatan untuk mendapatkan reward. Jika kita dapat memanjakan diri kita dengan secangkir kopi yang enak atau hal menyenangkan lain menyelesaikan setiap sprint, kita akan jauh lebih mungkin untuk menjaga tingkat motivasi dan energi kita tetap tinggi. Ini jauh lebih mudah daripada mencoba menunda kepuasan selama enam jam berturut-turut.

Fleksibilitas. Manfaat akhir dari sprint adalah menjadi fleksibel. Jika Kita memulai sprint dan menyadari bahwa kita mandek atau kewalahan, kita sering kali dapat mengganti sprint yang berbeda dan mengerjakannya sebagai gantinya. Hal ini sering kali memberi otak kita waktu untuk memproses kesulitan yang kita hadapi secara tidak sadar, sehingga ketika kita kembali ke sprint yang rumit, kita jadi memiliki pemahaman yang lebih dari pada sebelumnya (ditambah lebih percaya diri dan motivasi setelah menyelesaikan sprint pengganti).

2. Mengatasi gangguan bukannya menghilangkannya

Semua orang tahu bagaimana gangguan dapat merusak produktivitas kita. Dari notifikasi Facebook dan email sampai panggilan telepon yang tak henti-hentinya, gangguan tampaknya konstan dalam kehidupan modern.  Kita tenggelam dalam gangguan dan produktivitas kita menjadi terganggu.

Tetapi ada masalah yang lebih besar daripada banyaknya gangguan yang kita semua hadapi: Strategi kita untuk menangani gangguan yang tidak tepat.

Sebagian besar dari kita berasumsi bahwa kita perlu mengatasi dan mengelola gangguan kita dengan lebih baik. Misalnya karena banyaknya noifikasi pesan yang masuk ke handphone, maka kita belajar untuk mengatur agar pesa tidak masuk pada jam – jam tertentu saat kita sedang bekerja. Atau kita beranggapan, kita harus meningkatkan kedisiplinan diri kita agar kita tidak tergoda pada hal – hal yang bisa merusak produktivitas, seperti infotaintment, sosial media dan banyak hal lainnya.

Padahal daripada kita berusaha mengelola dan meminimalisir gangguan yang datang, alangkah lebih baik jika kita memotong sumber gangguannya. Jadi daripada kita mengatur agar notifikasi pesan masuk hanya pada jam – jam tertentu, lebih baik kita matikan saja handphone kita saat kita sedang bekerja. Atau misalnya rekan kerja kita sering mengganggu kita saat sedang bekerja, coba saja kita menggunakan ruang rapat atau ruang private lain yang tersedia saat kita sedang melakukan pekerjaan.

Dari pada kita mencoba mengelola gangguan yang masuk, lebih baik kita hilangkan saja sumber gangguannya sama sekali.

3. Menggunakan rasa takut dan kritik untuk memotivasi diri sendiri

Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa kita perlu keras pada diri sendiri untuk menjadi sukses.

Kita berasumsi bahwa kita perlu menjadi sersan militer yang terus-menerus meneriakkan perintah dan membuat ancaman - atau kita akan berakhir dengan malas-malasan, tidak pernah menyelesaikan apa pun.

Dan salah satu hasil terburuk dari keyakinan ini adalah kebiasaan negative self-talk.  Negative self-talk adalah saat kita bagaimana saat kita berbicara hal yang buruk pada diri kita sendiri. Misalnya mungkin kita pernah berbicara pada diri kita sendiri seperti ini :

Aku bodoh banget sih! Masak hal kayak gini aja ga bisa inget ?!

Ah gila, gw ga ngerti banget gimana cara ngerjainnya. Kayaknya gw emang ga pantes kerja di sini..!

Kita terbiasa mengatakan hal-hal yang buruk, menyakitkan, dan jelas tidak rasional seperti ini kepada diri kita sendiri karena sebuah keyakinan yang sudah tertanam sejak lama : Saya harus keras pada diri sendiri untuk menjadi sukses .

Padahal negative self-talk tidak membuat orang menjadi lebih produktif. Justru sebaliknya daripada kita menghabiskan energi untuk mencaci – maki diri kita sendiri. Lebih baik kita pakai energi itu untuk melakukan pekerjaan yang baru yang lebih baik.

Selain itu suasana hati kita juga akan meningkat saat kita berhenti berkata yang tidak baik pada diri sendiri. Suasana hati yang lebih baik juga akan memberi energi positif, dan membuat kita lebih bahagia yang akhirnya biasanaya akan meningkatkan produktivitas.

“Self-acceptance is my refusal to be in an adversarial relationship with myself.”

— Nathaniel Branden

4. Melakukan pekerjaan orang lain, bukan pekerjaan Kita sendiri

Oke, kita bisa menerapkan semua tips dan trik untuk meningkatkan prodktivitas yang ada secara sempurna, tetapi pada akhirnya kita tidak akan menjadi produktif jika kita mengerjakan apa yang benar benar berarti bagi diri kita.

Ada batasan seberapa besar motivasi yang kita dapatkan ketika kita termotivasi secara eksternal:

Rasa takut dipecat atau terlihat jelek di depan rekan kerja bisa memotivasi kita untuk sementara waktu.

Janji kenaikan gaji dan gelar baru mungkin membantu kita bekerja keras untuk sementara waktu.

Sebuah proyek baru mungkin membawa produktivitas kita meningkat sedikit.

Namun pada akhirnya, penting untuk mengakui bahwa hanya motivasi dari dalam yang dapat membuat kita benar – benar produktif. Hanya ketika kita mengerjakan hal yang benar-benar berarti bagi kita secara mendalam barulah kita dapat sepenuhnya terlibat dan bekerja mendekati potensi kita dalam jangka panjang.

Implikasinya adalah tidak ada teknik atau strategi yang dapat membuat Kita melewati ambang produktivitas tertentu. Tidak ada kemauan keras, disiplin, atau positif reinforcement yang akan membuat kita bekerja pada potensi tertinggi.

Jika Kita ingin benar-benar produktif, Kita harus membuat pilihan sulit yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan yang benar-benar berarti. Seringkali ini berarti keputusan besar dan tidak nyaman:

Kita mungkin perlu mengkonfrontasi atasan kita tentang peran atau posisi yang sama sekali berbeda di perusahaan Kita.

Kita mungkin perlu meninggalkan pekerjaan kita sepenuhnya, atau bahkan bekerja untuk diri sendiri.

Dan jika kita sudah bekerja untuk diri sendiri, kita mungkin perlu membuat beberapa keputusan sulit tentang lingkungan kerja kita, dengan siapa kita bekerja sama, atau kapan kita bekerja.

Jika Kita ingin mencapai potensi Kita, Kita tidak akan sampai di sana melakukan pekerjaan orang lain. Kita harus menemukan keberanian untuk melakukan pekerjaan yang berarti bagi Kita. Hanya dengan begitu, kita akan memanfaatkan potensi sejati kita dan bekerja pada atau mendekati kapasitas penuh kita.

Source : https://medium.com/personal-growth/4-things-productive-people-dont-do-1758a4d92998

  • Share: