Entrepreneurial Thinking Paradoxes

Selain fokus di dunia startup bersama cubic.id dan bisnis yang lain juga, saya saat ini diminta untuk membantu SBM ITB, khususnya program studi kewirausahaan untuk menjadi mentor bisnis, kadang juga diminta sharing dan menyampaikan materi, biar gampang bahasa awamnya dosen part-time. Selama kurang lebih 2 tahun terakhir membantu SBM, saya ternyata malah lebih banyak belajar dari materi-materi kuliah yang disampaikan disana dibanding menyampaikan apa yang saya tahu dan alami.

Salah satunya di awal semester pendek ini, saya ikut sit in di kuliahnya mas Nazmi, dosen muda yang enerjik ketika menyampaikan kuliah. Materinya tentang entrepreneurial thinking paradoxes. Sebelum lebih jauh tentu kita perlu tahu apa itu definisi paradox, paradox adalah suatu kondisi yang muncul dari sebuah premis yang sama-sama diakui kebenarannya, namun bertolak belakang sehingga menimbulkan kontradiksi. Sebagai contoh yang populer adalah paradox waktu sebagai berikut :

“Jika kalian bisa kembali ke masa lalu dan membunuh kakek kalian, apa yang akan terjadi?”

Pernyataan ini menjadi paradox karena jika kita kembali kemasa lalu dan membunuh kakek, maka ayah kita tidak ada dan kita pun menjadi tidak ada. Karena kita tidak ada maka seharusnya kita tidak bisa membunuh kakek kita. Tapi kenyataannya kita ada dan membunuh kakek kita dimasa lalu. Kesimpulannya menjadi hal yang membingungkan ketika kita menggunakan definisi time travel ke masa lalu sebagai hanya “masa lalu”. Jika teman-teman menonton Avengers: End Game, tentu bisa memecahkan paradox ini dengan teori baru yang dipertontonkan saat para Avengers melakukan time travel kepada waktu saat Thanos belum memiliki seluruh infinity stones. Menurut Avengers: End Game, saat kita kembali ke masa lalu, masa lalu tersebut akan menjadi masa depan kita, karena bagi kita waktu relatif bergerak selalu maju, sehingga paradox waktu diatas terselesaikan dengan teori baru ini, kakek akan mati dan kita masih ada.

Kembali ke entrepreneurial thinking paradoxes saya ingin cerita tentang 3 paradox saja yang jika kita tidak hati-hati bisa jadi kita akan salah dalam berpikir dan memutuskan suatu hal strategis dalam usaha kita.

1.    The Uncertainty Paradox

Paradox yang ditemukan oleh Peter Lewin (2011) ini berbunyi,

“entrepreneurial opportunities are complicated by uncertainty but would not exist without uncertainty.”

Sebagaimana kita ketahui entrepreneur kerap kali disulitkan karena menghadapi kondisi ketidakpastian. Ketidakpastian pasar, pesaing, kondisi sosial-politik, nilai tukar kondisi ekonomi dan sebagainya. Sebagai contoh banyak entrepreneur yang akhirnya gulung tikar ketika terjadi ketidakpastian ekonomi dan moneter pada tahun 1998. Kepastian akan lebih memudahkan entrepreneur dalam melakukan planning dan mengeksekusinya. Namun menurut Lewin hal ini menjadi paradox karena jika semua kondisi sudah pasti, malah tidak akan peluang lagi bagi entrepreneur untuk berbisnis, karena bisnis bekerja untuk memenuhi ketidakpastian-ketidakpastian itu. Kalimat yang sering kita dengar mungkin pernyataan yang mengatakan “Jangan berbisnis, bisnis itu tidak pasti” padahal justru berbisnis memang untuk mengisi peluang dalam ketidakpastian itu.

2.    The Strategic Paradox
Eric Ries (2011) pernah menulis

“For a long-term sustainable business model an entrepreneur would need to focus on exploration but that his company would not be able to sustain itself without a short-term exploitative strategy.”

Strategi perusahaan diharuskan melakukan dua hal yang berbeda, disisi lain harus melakukan eksplorasi dan pengembangan bisnis agar bisa bertahan dalam jangka panjang, namun disisi lain juga harus fokus melakukan eksploitasi bisnis yang sudah menghasilkan dalam jangka pendek. Kita kerap terjebak antara memilih jangka panjang atau jangka pendek, padahal keduanya seharusnya dilakukan.

3.    The Momentum Paradox

“an entrepreneur will be too early, if no one else was too early, will be right on time when somebody was too early and will be too late if everyone else was earlier."

Seringkali kita menganggap dalam mengambil keputusan, membuat produk baru dan sebagainya memegang prinsip lebih cepat lebih baik, ini mungkin ada benarnya karena sering juga ketika kita terlambat maka peluang tersebut sudah diambil oleh orang lain. Akan tetapi banyak juga perusahaan yang menggunakan prinsip itu malah terlalu cepat, sehingga pasar belum siap dan pesaing yang muncul belakangan malah lebih diterima oleh konsumen. Hal ini menjadi paradox karena sering kita tidak tahu atau setidaknya tidak akan bisa memiliki informasi yang penuh kapan waktu tepat, jika kita launching produk hari ini bisa jadi terlalu cepat, namun jika kita launching tahun depan bisa jadi terlalu lambat dan peluang serta pasar pun sudah diambil oleh orang lain.


Ditulis oleh: Wahyu Eko Widodo, MBA.

  • Share: