Belakangan ini, kecerdasan buatan (AI) memang jadi primadona. Tapi di balik kecanggihannya, ada efek samping yang bikin industri elektronik kelabakan. Menurut laporan Wall Street Journal, 70 persen pasokan chip memori DRAM dunia kini diserap oleh pusat data AI. Bandingkan dengan era sebelum AI meledak, ketika data center hanya mengambil sekitar 35 persen.
Masalahnya Ada di “Wafer Penalty”
Kenapa server AI begitu rakus? Jawabannya ada pada jenis memori yang mereka gunakan: High Bandwidth Memory (HBM). RAM jenis ini memang super cepat, tapi produksinya boros bahan baku. Untuk membuat kapasitas HBM yang sama, pabrik butuh tiga kali lipat wafer silikon dibandingkan RAM DDR5 biasa.
Jadi, setiap kali pabrikan mengalihkan jalur produksi ke HBM, otomatis stok RAM untuk gadget sehari-hari ikut terpangkas. Inilah yang disebut fenomena “wafer penalty”.
Mobil dan Kulkas Jadi Korban Tak Terduga
Yang menarik, dampak krisis RAM ini bukan hanya terasa di laptop atau smartphone. Industri otomotif dan peralatan rumah tangga pintar juga ikut kena. Mobil modern dan kulkas pintar biasanya masih memakai chip memori generasi lama. Sayangnya, karena keuntungan dari chip lawas tipis, produsen lebih memilih fokus ke HBM yang lebih menguntungkan.
Akibatnya, kita bisa saja melihat harga kulkas naik atau antrean panjang untuk membeli mobil baru, mirip dengan kelangkaan chip saat pandemi lalu.
Kenapa Pabrik Tidak Ditambah?
Pertanyaan klasik: kenapa tidak bangun pabrik baru saja? Ternyata jawabannya tidak sesederhana itu. Raksasa memori seperti Micron, Samsung, dan SK Hynix masih trauma akibat kelebihan stok pasca-pandemi. Waktu itu, harga chip jatuh karena oversupply.
Sekarang, mereka lebih memilih strategi hati-hati: membiarkan pasokan tetap ketat (undersupply) agar harga tinggi terjaga, daripada ambil risiko investasi besar yang bisa jadi bumerang kalau tren AI tiba-tiba meredup.
Apa Artinya Buat Kita?
- Laptop dan smartphone: harga bisa naik, stok terbatas.
- Mobil dan kulkas pintar: berpotensi lebih mahal atau sulit didapat.
- Industri teknologi: makin bergantung pada tren AI, dengan risiko besar kalau hype mereda.
Singkatnya, krisis RAM ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara perkembangan AI dan kehidupan sehari-hari. Dari laptop kerja sampai kulkas di dapur, semuanya bisa kena imbas.
AI memang membawa banyak kemajuan, tapi juga menciptakan tantangan baru. Jadi, kalau dalam waktu dekat harga kulkas atau laptop naik, jangan heran—bisa jadi penyebabnya bukan inflasi, melainkan “rakusnya” server AI dalam mengonsumsi RAM dunia.
Source : tekno.kompas.com
Disclosure: Artikel ini diproduksi dengan bantuan AI