Cisco baru saja merilis temuan yang cukup bikin banyak perusahaan di Indonesia waspada: 40 persen organisasi di Tanah Air berisiko kehilangan nilai bisnis karena “utang infrastruktur AI”. Istilah ini mungkin terdengar teknis, tapi sebenarnya sederhana—perusahaan terlalu cepat mengadopsi kecerdasan buatan tanpa menyiapkan fondasi teknologi yang kuat.
Utang Infrastruktur AI, Apa Maksudnya?
Bayangkan sebuah perusahaan yang ingin segera memanfaatkan AI untuk meningkatkan layanan pelanggan atau mempercepat analisis data. Mereka buru-buru membeli sistem, memasang aplikasi, dan meluncurkan proyek tanpa memastikan jaringan, server, dan keamanan datanya siap. Nah, kondisi inilah yang disebut sebagai “utang infrastruktur AI”. Sama seperti utang finansial, utang ini bisa menumpuk dan akhirnya menghambat inovasi. Cisco menekankan bahwa ketidakseimbangan antara adopsi teknologi dan kesiapan infrastruktur bisa menimbulkan risiko operasional, bahkan keamanan.
Gambaran Global dan Posisi Indonesia
Dalam laporan AI Readiness Index 2025, hanya sekitar 13 persen perusahaan di dunia yang masuk kategori “AI Pacesetters”—mereka yang sudah menyiapkan infrastruktur fundamental sehingga bisa memetik manfaat maksimal dari AI. Di Indonesia, kondisinya lebih beragam. Ada perusahaan yang sudah melangkah jauh, tapi banyak juga yang masih tertinggal. Akibatnya, sekitar 40 persen organisasi di Indonesia berpotensi kehilangan nilai bisnis karena tidak mampu mengimbangi kecepatan adopsi AI dengan kesiapan infrastruktur.
Mengapa Ini Jadi Momok?
AI memang menjanjikan banyak hal: efisiensi, inovasi, dan daya saing. Namun, tanpa fondasi yang kokoh, teknologi ini justru bisa jadi beban. Perusahaan yang tidak siap bisa menghadapi masalah seperti sistem yang sering down, biaya operasional yang membengkak, hingga ancaman keamanan data. Cisco menyebut keputusan infrastruktur yang diambil saat ini akan menentukan pencapaian bisnis di masa depan. Jadi, kalau salah langkah, dampaknya bisa panjang.
Harapan dan Langkah ke Depan
Kabar baiknya, ancaman ini bukan berarti jalan buntu. Justru riset Cisco menjadi alarm agar perusahaan lebih serius membangun fondasi teknologi. Mulai dari memperkuat jaringan, menyiapkan sistem keamanan, hingga memastikan kapasitas server memadai. Dengan begitu, AI bisa benar-benar menjadi mesin penggerak inovasi, bukan sekadar tren yang membebani.
Singkatnya, riset Cisco mengingatkan bahwa AI bukan hanya soal aplikasi canggih, tapi juga kesiapan infrastruktur. Tanpa pondasi yang kuat, perusahaan bisa terjebak dalam “utang” yang menghambat langkah mereka. Jadi, sebelum berlari kencang dengan AI, pastikan jalannya sudah mulus.
Source : tekno.kompas.com
Disclosure: Artikel ini diproduksi dengan bantuan AI