Hidup Minimalis

Hidup Minimalis

Kalau artikel sebelumnya erat kaitannya dengan dunia start-up, artikel kali ini sedikit berbeda. Cukup ringan, tapi siapa sangka bisa mengubah beberapa aspek kehidupan kita, seperti judulnya “Hidup Minimalis”.
Artikel ini mengulas sebuah podcast yang dibuat oleh Iqbal Hariadi, Head of Marketing dari kitabisa.com, startup yang membuat platform penggalangan sana (crowdfunding). Podcast Subjective biasanya membahas kehidupan millenials. Tujuannya adalah supaya millenials bisa mendengarkan obrolan yang berkualitas ;)
 
Banyak anggapan bahwa gaya hidup minimalis adalah gaya hidup untuk para “old money”, yang sudah kenyang dengan hidup dan tidak mementingkan uang lagi. Tapi di sisi lain, minimalism bukan hanya mengubah gaya hidup, tapi juga mengubah gaya pandang. Mindset yang cukup simpel: kalau kita punya lebih sedikit pilihan, dalam hal apa pun, kita lebih mudah untuk fokus ke hal-hal yang lebih penting.
Kenapa kita harus memilih fokus? Bukankah ada istilah multitasking? Dalam bukunya yang berjudul “Your Fantastic Elastic Brain”, Dr JoAnn Deak mengatakan bahwa otak hanya dapat fokus pada satu tugas dalam satu waktu. Melakukan banyak hal sekaligus menyebabkan otak kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mendalam. Beliau menambahkan, “Ketika Anda mencoba untuk multitasking, dalam jangka pendek itu Anda menggandakan jumlah waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu tugas, dan biasanya menimbulkan setidaknya dua kali lipat jumlah kesalahan”.
Oleh karena itu, ada 7 hal penting dalam hidup yang perlu dikurangi, supaya kita lebih simpel, lebih bahagia.


1. Less apps and notification

Zaman sekarang, handphone dapat dikatakan sebagai distraksi terbesar. Memory handphone yang besar membuat kita cenderung men-download banyak aplikasi dengan asumsi “nanti bakal butuh”. Tapi sebetulnya bisa kita hitung penggunaannya dalam kurun waktu pertama meng-install sampai sekarang. Sering pula kita men-download beberapa aplikasi yang fungsinya kurang lebih sama, misalnya aplikasi untuk meng-edit foto. Tanpa kita sadari, kita akan membuang waktu untuk memilih akan mengedit foto dengan aplikasi yang mana.
Mungkin ini saat yang tepat untuk kita melihat laman home di handphone kita dan meng-uninstall aplikasi-aplikasi yang tidak dibutuhkan. Selain mengatur aplikasi, kita juga bisa mengatur notifikasi yang kita butuhkan. Notifikasi yang penting, tentu membantu kerja kita. Tapi kalau tidak, hanya akan menjadi distraksi bukan?
 
2. Less mindless scrolling
Beberapa social media seperti Facebook dan Instagram membentuk kebiasaan penggunanya untuk scrolling terus tanpa tahu apa yang sedang dicari dan tanpa sadar waktu yang sudah dihabiskan. Selain itu, setiap konten yang kita lihat di Instagram, berbeda-beda moodnya. Kalau konten yang positif, bisa menimbulkan semangat dan inspirasi. Konten yang seru, membuat kita terhibur. Tapi konten bernada nyinyir dan menyebar hate speech, membuat mood kita negatif.
Bagaimana caranya supaya meminimalisasi switching mood? Mudah saja yaitu dengan memanfaatkan fitur unfollow dan block. Hal ini mungkin jarang kita lakukan. Akan tetapi, hal ini diperlukan supaya kita bisa mengontrol timeline social media kita. Kalau kita hanya mem-follow akun yang kita yakin membawa nilai positif (menambah semangat, motivasi berkarya, atau penghilang kejenuhan), timeline social media kita akan sesuai ekpektasi kita sendiri.
 
3. Less network or friendship
Statement di atas bisa jadi kontradiktif. Di satu sisi kita harus memperluas pertemanan, tapi di sisi lain disarankan untuk mengurangi pertemanan. Intinya adalah kita harus memilih orang-orang terdekat kita. Menciptakan pertemanan sekarang sangat mudah, lagi-lagi karena social media dan platform chatting. Platform chatting kita pasti berisi banyak sekali grup. Dari grup teman kerja, grup alumni, grup keluarga, sampai grup komunitas. Konten masing-masing grup tentu berbeda-beda. Ada grup yang banyak informasi yang sedikit banyak kita butuhkan. Ada grup yang banyak konten humornya, sesekali membuat kita terhibur. Tapi tidak sedikit grup yang menebar hoax atau hate speech yang membuat resah. Grup yang kurang bisa diambil manfaatnya lebih baik ditinggalkan, dengan etika yang baik tentunya. Dengan demikian, kita bisa memilih akan ada di pertemanan yang seperti apa.
 
4. Less eat
Ini mungkin bagian tersulit. Dalam bukunya yang berjudul Eating Clean, Inge Tumiwa-Bachrens menyatakan bahwa gaya makan hidup sehat bukan untuk gaya-gayaan tapi untuk kesehatan. Tujuannya adalah mencapai berat badan yang ideal. Kalau tidak ideal maka tubuh akan mudah sakit, badan tidak fit, lebih mudah ngantuk, dsb. Dampaknya tentu menjadi tidak produktif. Dampak lebih jauhnya lagi adalah mengidap penyakit-penyakit seperti jantung, hipertensi, dsb. Umur memang di tangan Tuhan, tapi ada hal-hal scientific yang dapat kita kontrol untuk meminimalisasi potensi penyakit dalam hidup kita, salah satunya adalah menjaga makan. Aturan dari clean eating sebetulnya simple: kurangi mengonsumsi gula dan makanan kemasan yang mengandung zat pengawet, dan memperbanyak konsumsi air putih.
 
5. Less clothes
Buku Life Changing Magic of Tiding Up karya Marie Condo bisa menjadi referensi yang bagus untuk menjelaskan konsep less clothes. Secara sederhana, aturannya mudah: kita buka lemari baju, lihat baju-baju yang kita miliki. Dari sekian banyak baju mungkin hanya 30-40% yang rutin dipakai. Sisanya, belum tentu dipakai dalam kurun waktu sekian bulan. Bisa jadi karena modelnya sudah tidak trend, ukurannya sudah tidak cukup, atau warnanya sudah tidak musim lagi. Kalau diperhatikan, “akan pakai baju apa ya hari ini?” adalah salah satu decision making yang membuang waktu. Itulah alasannya Steve Jobs dan Mark Zuckenberg selalu memakai baju yang sama model dan warnanya. Supaya mereka tidak harus membuang waktu untuk memutuskan akan pakai baju apa setiap harinya, dan memiliki banyak waktu untuk decision making yang lebih penting.
Lalu baju-baju yang sudah tidak terpakai harus dikemanakan? Supaya tidak mubazir, lebih baik disumbangkan ke orang-orang yang membutuhkan. Bisa jadi orang-orang di lingkungan rumah kita. Atau supaya lebih simple, kita bisa sumbangkan melalui platform sumbang.in. sumbang.in adalah website yang membantu kita menjual barang milik kita yang sudah tidak terpakai. Hasil penjualannya akan didonasikan untuk membantu sesama via platform kitabisa.com.
 
6. Less buying
Di zaman yang serba mudah ini, belanja pun hanya butuh waktu sekian menit. Dengan adanya e-commerce dan dan online shop belanja semakin mudah. Dibantu dengan trend edit foto, produk-produk pun terlihat sangat menarik. Di antara barang-barang tersebut, ada yang sangat dibutuhkan, tapi tidak sedikit yang hanya “lapar mata” tapi sebetulnya tidak dibutuhkan. Ada pula yang addict terhadap satu brand tertentu, sehingga produk apapun yang dikeluarkan brand tersebut akan dibeli, padahal sebetulnya tidak dibutuhkan.
Only buy what you need. Inilah pentingnya financial planning. Sisihkan untuk tabungan, zakat, cicilan, sisanya baru bisa digunakan. Tidak jarang pula kita membeli barang karena penasaran padahal kita sudah punya barang dengan fungsi yang sama dan belum habis digunakan (untuk produk habis pakai), misalnya parfum, make-up, skincare, dll. Karena setiap barang punya masa kadaluarsanya masing-masing, maka sebaiknya kita membeli barang baru setelah barang lama sudah habis dipakai.
 
7. Less complaining
Poin terakhir lebih ke mindset, bukan practical. Jika diibaratkan seperti bilangan biner yang hanya ada dua pilihan antara nol dan satu, maka dalam hidup pun kita harus memilih, antara kerja atau complain. Hiduo tidak akan lepas dari masalah, masalah di kantor, masalah keluarga, pertemanan, hubungan suami istri, dll. Dua pilihan untuk menghadapinya adalah complain atau mencari solusi. Mahasiswa yang skripsinya terhambat, bisa memilih mau menyalahkan dosen, atau gigih mengerjakan skripsi sampai selesai. Wisudawan yang sudah lama lulus tapi belum mendapat kerja, punya pilihan untuk complain ke Negara tentang perekonomian rakyat yang belum merata, atau melakukan lebih banyak hal supaya dapat kerja. Di dunia ini banyak hal yang tidak bisa kita control, tapi kita bisa mengupayakan supaya pikiran kita positif dan tetap produktif.

  • Share: